Sabtu, Mei 28, 2011

Ketika Kilatan Sinar itu Muncul

Menjadi pengurus komite di sekolah anak saya merupakan pengalaman baru dalam hidup saya. Kesempatan untuk mengamati menjadi terbuka lebar. Dunia SD, merupakan dunia yang menurut saya masih perlu banyak perhatian. Sumber daya manusia yang kurang, sarana yang terbatas, apresiasi orang tua/wali murid yang minim merupakan masalah klasik di sekolah tersebut. Meskipun demikian, guru-guru dalam melaksanakan tugasnya sangat bersungguh-sungguh. Membimbing anak-anak dengan penuh kesabaran, meskipun saya tahu bahwa anak-anak di kelas bervariasi tingkah lakunya. Yang paling berkesan bagi saya adalah pengadministrasian perangkat pembelajaran mereka, sangat rapi. Pengarsipan portofolio setiap siswa rapi dan lengkap. Hal tersebut bermanfaat, saat ada wali murid yang protes tentang nilai anaknya.

Dalam pengambilan raport kelas III, anak saya dinyatakan rangking 1. Saat diberitahu di rumah, tampak sekali kegembiraan di raut wajahnya. Sekilas ada kilatan sinar pada bola matanya. Ah..gumanku..dimana ya pernah lihat kilatan seperti itu? Sepertinya pernah menemui hal seperti itu.

Selepas Isya..saya ingat tentang kilatan sinar di bola mata itu. Peristiwa itu terjadi saat saya memberitahu orangtua saat saya diterima di perguruan tinggi negeri dan diterima bekerja. Saya terkesiap saat melihat kedua bola mata sang ayah muncul kilatan sinar. Tidak lama. Mungkin hanya 1 detik saja.

Peristiwa serupa terjadi lagi di waktu lain. Bedanya ini adalah di malam hari. Hujan rintik-rintik tampak seseorang berjualan kripik miler (kripik dari singkong yang diparut dan dibentuk bulat) menunggu calon pembeli. Wajahnya agak muram. Ditunggu sekian lama tak seorangpun menghampirinya. Kasihan juga..malam-malam begini dagangan masih banyak. Saya dekati..

“ Berapa harga kripiknya pak?”

“ Dua ribu lima ratus satu kresek pak”, jawabnya.

“ Ambil darimana kripiknya?

“ Bojonegoro pak”

“ Hmm.....Bungkuskan sepuluh ya!”

“ Se..se..puluh pak?” Tanyanya gagap

“ Ya”

Dengan cepat dia memasukkan kripik tersebut ke kresek yg lebih besar.

Uang Rp. 50.000 saya sodorkan

“Gak ada kembalinya pak”.

Terdiam sejenak saya. Berarti sekian lama orang ini belum ada pembelinya.

“Ambil kembaliannya pak” segera kutinggalkan orang itu.

“Pak......,”! panggilnya.

Spontan kutoleh ia.

“Trima kasih banyak”, ucapnya dengan santun dan senyumnya yang mengembang. Tampak selintas kilatan sinar di matanya.

Di waktu lain, saya mengamati murid-murid mengerjakan soal ulangan harian. Saya amati satu per satu. Sengaja kubiarkan mereka berimprovisasi. Sebagian besar tampak gelisah, menggeliat, tolah-toleh. Hanya beberapa orang saja yang “khusyu” bekerja sendiri. Tahu tidak ada teguran, makin berani. Nyontek dan bekerja samalah mereka hingga waktu habis.

Satu minggu kemudian, hasil ulangan dibagikan. Saya panggil satu per satu. Banyak siswa yang teridentifikasi menyontek mendapat nilai baik. Mereka tersenyum dengan bangganya. Kupandangi wajah mereka. Tak seorangpun memberikan kilatan sinar di bola matanya. “Ahh”, desahku. Sebagian muridku rupanya belum menyadari tujuan dalam belajar. Seandainya mereka tahu bahwa salah satu tujuan belajar adalah tercapainya suatu kemandirian, tentunya mereka akan menjauhi perbuatan menyontek. Mereka hanya berpikir bahwa keberhasilan dinilai dari hasil akhir. Tidak peduli bagaimana prosesnya. Padahal pada hakikatnya proseslah yang seharusnya kita jadikan fokus. Proses yang baik meskipun belum tentu menjadi hasil yang baik, namun dengan perbaikan-perbaikan yang dilakukan, pasti akan mengarah pada hasil yang baik atau sempurna.

Pernah saya membaca dalam buku yang berjudul mestakung karta Prof. Yohannes Surya Ph.D. Diceritakan bahwa anak-anak tim olimpiade fisika Indonesia (TOFI), memiliki durasi belajar yang sangat panjang. Enam belas jam dalam satu hari di mulai jam 07.00 hingga jam 23.00. Luar biasa...gumanku. Selama satu tahun persiapan akhirnya mereka berhasil menjadi juara olimpiade fisika Internasional. Nampak haru dan bangga saat mereka tampil di podium. Saya yakin kilatan sinar berkelebat di bola mata mereka.

Seandainya muridku mau menyempatkan belajar secara khusus dua jam saja sehari, meskipun tidak bisa seperti tim olimpiade fisika. Insya Allah mereka akan lebih siap menghadapi berbagai macam ujian, mulai ulangan harian, ulangan akhir semester, ujian sekolah, bahkan ujian nasional. Banyaknya waktu untuk belajar akan menghasilkan pengetahuan-pengetahuan. Pengetahuan-pengetahuan itu akan mengkonstruksi dan menjelma rasa percaya diri. Percaya diri suatu proses. Seperti dikatakan oleh pepatah Jepang,: “Gunung itu adalah kumpulan debu yang berkumpul”. Atau seperti yang dikatakan ahli kungfu Bruce Lee,: “Jurus akan sempurna jika dilatih ribuan kali”. Intinya adalah frekuensi berpotensi melahirkan kesuksesan. Kesuksesan yang akan melahirkan kilatan-kilatan sinar.

Jumlah 1500 siswa bukanlah jumlah yang sedikit. Berapa jumlah siswa yang akan melahirkan kilatan sinar. Kilatan sinar yang akan menerangi “Sang Almamater”. Smoga tidak hanya satu, dua, tiga orang saja.....Smoga suatu hari nanti seluruh siswa memiliki hasrat yang kuat untuk melahirkan Kilatan Sinar di Bhumi SMK NICe yang kita cintai...amin

Cerme, 28 Mei 2011

Tidak ada komentar:

Jenis-Jenis Pengelasan

1. Shielded Metal Arc Welding ( SMAW ) SMAW adalah salah satu jenis pengelasan yang menggunakan loncatan electron ( busur listrik ) sebagai ...